Berbagi Informasi

Alumni GSNI Siap Jaga NKRI

26

KORANBERNAS.ID –Alumni Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) punya tanggungjawab sejarah terhadap kelangsungan tegak dan berkembangnya GSNI di seluruh wilayah Indonesia. Serta mewujudkan organisasi pelajar Nasionalis yang cinta tanah air, cerdas dan berkepribadian Indonesia yang siap menjaga tetap tegaknya Negara Kesatuan RI (NKRI) berdasarkan Pancasila.

Hal itu merupakan bagian dari Deklarasi Alumni GSNI yang digelar Sabtu (20/01/2018) di Wisma Kagama Bulaksumur Yogyakarta. Deklarasi yang diucapkan oleh Wakil Ketua Penyelenggara Deklarasi Alumni GSNI, Ariadji Sanjoto SE MSi didampingi dan disaksikan para pendiri GSNI, Ketua Umum GSNI dan sejumlah tokoh.

Selanjutnya ditegaskan wujud dari organisasi itu adalah organisasi alumni pelajar nasionalis yang mempunyai nilai kejujuran, kebenaran, kritis, siap membantu sesama serta konsisten menggelorakan ajaran Bung Karno dan ikut menjaga kelestariannya. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan wadah persatuan alumni GSNI berdasar Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Lahirnya organisasi alumni GSNI tersebut spontan didukung oleh Jendral TNI Purn Tyasno Sudarto dan Jendral Pol Purn Suroyo Bimantoro. Bahkan oleh Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Dr Sony Soemarsono langsung dinyatakan sah dan merupakan organisasi massa nomor 334.040 yang terdaftar di Kemendagri.

Deklarasi juga dihadiri perwakilan GSNI dari berbagai cabang baik di Jawa maupun luar Jawa. Termasuk para tokoh sejak awal berdirinya GSNI tanggal 2 Januari 1959, juga dari DIY. Meski banyak diantara mereka yang berjalan pun harus dibantu tongkat, bahkan kursi roda, namun semangat menggelorakan salam perjuangan dan pekik kemerdekaan tidak surut.

Kehadiran organisasi pelajar nasionalis dalam situasi negara seperti saat ini menurut para pembicara antara lain para pendiri GSNI Waluyo Martosugito SH dan HR Djokosoemadio SH, juga Jendral TNI Purn Tyasno Sudarto, Jendral Pol Pun Suroyo Bimantoro serta ketua panitia Hadi Wasikoen sangat perlu. Banyak sekali generasi muda tidak tahu sejarah, tidak kenal lagu-lagu perjuangan, tidak kenal pahlawan bangsa.

Di antaranya karena pelajaran budi pekerti, ilmu bumi, sejarah telah dihapus. Padahal hal itu sangat penting untuk membentuk generasi muda yang berwawasan kebangsaan sebagai calon penerus pemimpin bangsa di masa datang.

Kondisi seperti ini memang sengaja dibuat oleh kelompok politik tertentu untuk melemahkan generasi muda dan ingin mengubah dasar negara Pancasila dengan yang lain. Sehingga yang sangat memprihatinkan saat ini semakin sedikit pemuda yang memahami Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai dasar negara dan penguat persatuan bangsa.

Bahkan Dr Sony merasa sangat sedih sesaat setelah setelah dia menjadi inspektur upacara penyerahan penghargaan kepada Bupati Sukoharjo. Menyaksikan banyak sekali pelajar SLTA yang tidak mau menghormat bendera Merah Putih. Ketika dia mengumpulkan para pejabat baik sipil maupun niliter, Sony mendapat jawaban mereka hanya mau menghormat pada Allah. Tidak pada bendera.

“Seandainya hal itu terjadi sebelum upacara, tanda penghargaan itu tidak jadi saya serahkan,” kata Sony.

Hal seperti ini tidak bisa dibiarkan karena Merah Putih merupakan salah satu lambang negara yang harus dihormati oleh seluruh anak bangsa. Dan merupakan salah satu upaya membentuk kepribadian anak muda mencintai dan menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negara.

Oleh karena itu para tokoh berharap, GSNI yang dulu pernah menjadi organisasi pelajar terbesar tetapi kemudian dibungkam oleh kekuatan penguasa nantinya akan hidup dan berkembang di semua daerah di Indonesia. Agar bisa mengawal negara ini sesuai dengan harapan para pendiri bangsa dengan mengamalkan ajaran Bung Karno sebagai salah satu pendiri bangsa, penggali Pancasila yang secara resmi ditetapkan sebagai dasar negara.

Deklarasi dimeriahkan dengan paduan suara Bahana Patria dengan konduktor Priyo Dwiarso. Meski seluruh anggotanya sudah lanjut usia namun suaranya masih mampu menggetarkan hati para hadirin. Termasuk ketika Jendral TNI Purn Tyasno Sudarto dengan suara gandem mengakhiri pidato pembekalannya dengan mengajak hadirin menyanyikan lagu Syukur.(yve)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.